Sunday, March 22, 2009

are you consumptive?

Do u think Indonesian people are consumptive? i know this is a common topic because there's a millions reviews of it. i just interest to write from my perception about this thing because i just had something that makes me think 'i wanna write some'

This morning i had an English test 'somewhere in old town'. Saat keluar tol Senayan tiba-tiba sebuah mobil Lamborghini hijau yang body nya tidak lebih tinggi dari palang parkir di mall-mall melintas dengan amat tidak sopan nya di samping mobil nyokap yang saya gunakan *well i didn't have my own car yet* seketika itu juga saya hanya bisa mengucap "Subhanallah". Ketika mobil saya sudah memasuki daerah Sudirman lagi-lagi sebuah sedan kuning dengan lambang kuda jingkrak menyalip mobil saya dengan sama tidak sopan nya seperti Lamborghini hijau tadi. that was Ferrari just passing through my car. Kekaguman saya ternyata tidak berhenti sampai disitu karena di bundaran HI, sebuah Rolls Royce hitam yang sangat berbeda nasib jika dibandingkan dengan vios ibu saya melaju dengan anggun nya. mmhh,,okay i've just saw three luxurious cars in 15 minutes.

Mungkin bagi sebagian orang, apa yang saya ceritakan ini dianggap norak "please deh cha,norak banget c lo cuma liat mobil gitu aja" tapi bagi saya yang 'hanya' *dan merasa sangat beruntung* memiliki 3 mobil keluaran Jepang dengan harga di bawah 200juta di rumah *ya,,mobil ayah saya sedikit di atas 200juta* kejadian tadi pagi cukup membuat saya 'ngiler' dan berpikir "man!! syapa bilang Indonesia itu miskin?" buktinya hanya dalam waktu 15 menit saya sudah melihat tiga mobil mewah yang harga nya masing2 diatas 2 miliar rupiah 'berkeliaran' di jalanan ibukota. mereka yang mampu membeli mobil dengan harga sefantastis itu, pastinya memiliki income yang jauh di atas harga yang tadi saya sebutkan.

Pertama, pajak mobil mewah seperti itu bisa sama dengan harga sebuah sedan bekas low class keluaran Jepang atau Korea. Kedua, maintenance cost yang dibutuhkan untuk merawat mobil mewah tentu berkali-kali lipat dibanding mobil biasa. Ketiga, spare part yang dibutuhkan in case mobil tersebut kenapa2 pasti harus dibeli dengan harga yang 'sakit jiwa' pula. bukan apa2, tetangga satu komplek saya memiliki sebuah mobil Aston Martin merah yang luar biasa bagus nya *bagi saya*, suatu ketika seorang anak di kompleks saya yang sedang belajar mengendarai motor tidak sengaja *dan saya yakin dia tidak pernah berharap akan mengalami kejadian itu dalam hidup nya* menabrak Aston Martin tersebut yang sedang terparkir di depan rumah si empu nya mobil. Tabrakan yang tidak diharapkan itu menyebabkan lampu depan si Aston Martin ini pecah-hancur berkeping keping *alah*. si anak yang sudah mau pingsan ketakutan itu akhirnya menyampaikan kabar buruk tersebut ke orangtuanya. dan sama seperti sang anak, sang ibu pun juga hampir pingsan mendengarnya *bayangkan baru lampu nya aja yang ditabrak si ibu dan anak sudah mau pingsan, bagaimana kalau body si Aston Martin itu yang ditabrak?*


dan kisah selanjutnya adalah si empu nya Aston Martin memberikan uang ganti rugi yang diberikan oleh si keluarga penabrak ke satpam di kompleks saya dengan kalimat "buat kalian beli sate". Kalian tau kenapa? karena si penabrak yang bukan berasal dari keluarga kaya hanya mampu membayar ganti rugi sebesar satu juta rupiah whereas harga lampu baru Aston Martin tersebut adalah enam belas juta rupiah.Yap,,Rp 16.000.000

Got the point? Kemampuan finansial seseorang untuk membeli barang2 mewah ternyata memang harus dibarengi dengan kemampuan finansial untuk menghadapi hal-hal diluar dugaan seperti kejadian di atas. Coba bayangkan kalo kemampuan kita pas2an, apa sanggup kita merelakan 16juta melayang begitu aja untuk kerusakan yang tidak kita lakukan+ 1juta untuk bagi2 sate?

Banyak orang yang memiliki perilaku konsumsi yang tidak dibarengin dengan kemampuan finansial mereka. Dengan alasan 'menaikan gengsi', 'agar diPANDANG oleh orang lain' and so on so on. Saya suka sedih kalau orang mati-matian using branded thingy and spending their money for nothing without considering their financial abilities. using their credit cards without knowing whether they could paid it all later. it's pathetic. okay, we knows that consume will support the economic growth and its one of economic indicator for growing. but imagine if people couldn't paid the credit and it makes NPL - non performing loan alias kredit macet. Eh, jangan anggap saya berlebihan loh, saya tidak hanya bicara soal menggunakan kredit untuk beli printilan2 macam tas, sepatu atau baju. Tapi juga tentang buying big house, luxurious car, apartment or even villas biar di lihat orang lain 'KEREN nih, TAJIR boo'.

Penduduk Indonesia itu ada lebih dari 200juta jiwa, yang living in a big city and always want to socialized their selves berapa coba? kalau satu orang aja berani pinjam uang besar ke bank untuk beli rumah di Menteng atau mobil mewah lalu mengalami gagal bayar atau kredit macet bagaimana? bagaimanapun juga semakin lama, pola konsumsi masyarakat terlihat semakin tinggi, apalagi dengan kemajuan teknologi mendukung orang untuk berbelanja - hayoo banyak sekali kan yang suka online shopping- selain itu lingkungan sosial saat ini juga semakin mendukung orang untuk showing their own things agar bisa masuk ke kelas sosial tertentu. Padahal kan mencari pengakuan sosial tidak hanya dilakukan dengan menyamakan diri kita seLevel melalui barang bermerek, lokasi rumah atau hang out di club-club dan restoran mahal 3 times a week namun kemudian pusing setengah mati menghadapi tagihan yang merongrong dan sibuk pinjam sana sini untuk bayar *it means you make another debt*. too much consume will kills us.

so guys please do smart consume. manage your income for something more prior. and someday, believe me you'll be grateful for it.

No comments:

Post a Comment

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails